Betapa Pentingnya Pendidikan Dalam Keluarga Bagi Anak

Betapa Pentingnya Pendidikan Dalam Keluarga Bagi Anak

Pendidikan Dalam Keluarga – Setiap orang tua mempunyai kewajiban untuk mendidik anak-anaknya, serta mempunyai tanggung jawab dalam membesarkan dan mempersiapkan masa depan anak. Karena anak merupakan buah hati dari keduanya. Bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan agar anak-anak kelak menjadi anak yang dewasa, mandiri,  bertanggung jawab dan berguna bagi masyarakat dan agama.

Dari sebuah penelitian di Amerika oleh para ahli pendidikan anak menemukan sebuah fakta yang menarik mengenai study atau pendidikan yaitu anak-anak yang berasal dari keluarga atau masyarakat golongan menengah lebih berhasil dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari keluarga atau masyarakat golongan atas maupun bawah.

Hal ini dikarenakan ada perbedaan dalam kesempatan mendidik anak, kesempatan tantangan dan kesempatan biaya yang diberikan oleh orang tua. Pada keluarga golongan kelas atas kebanyakan terganggu dengan kesibukan kedua orang tua dalam bekerja sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk merawat dan mendidik anak mereka, sering kali tugas ini diserahkan kepada baby sitter.

Pada umur anak sekitar satu sampai sepuluh tahun dalam perkembangan anak akan mengalami pembentukan pola pikir, pola sikap dan pola tindak, semua pola ini akan diisi pada waktu masa pubernya tiba. Penanaman pola pada umur tersebut apalagi pada usia 6 tahun akan dapat meningkatkan kecerdasa anak. Dengan mengajak anak berbicara dan bermain pada umur tersebut, IQ-nya lebih tinggi dibandingkan dengan anak sebayanya yang jarang diajak berbicara dan bermain.

Maka dari itu pendidikan sangatlah diperlukan, tidak hanya pendidikan yang mereka dapatkan di sekolah. Namun juga diperlukan pendidikan dalam keluarga, perdidikan yang diperlukan yaiu pendidikan yang baik dan metode pendidikan yang tepat.

Berikut ini adalah bentuk pendidikan dalam keluarga yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan :

1. Rasa cinta dan kasih sayang dalam keluarga

Keluarga yang selalu dikelilingi dengan rasa cinta dan kasih sayang akan dengan mudah memberikan pendidikan kepada anak, karna anak akan lebih cepat menerimanya. Rasa cinta dan kasih sayang dalam keluarga akan menghasilkan kebahagiaan, kesempurnaan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Sedangkan suatu hal yang didasari dengan kebencian hanya akan menimbulkan kehancuran.

2. Keluarga tidak selalu melepaskan atau membiarkan begitu saja

Jangan selalu membiarkan atau memberikan izin anak untuk pergi keluar dengan alasan tugas atau sebagainya. Karna tanpa disadari anak menginginkan bimbingan dari orang tuanya dan dinilai benar atau salah.

Jika terlalu membebaskan begitu saja anak akan merasa tidak diperdulikan dan lebih senang dimarahi atau dipukul untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Dengan membiarkan anak keluar rumah begitu saja bisa mengarahkan mereka ke lembah kenakalan remaja dan hidup tanpa tujuan.

3. Tidak terlalu khawatir dan membiarkan anak mandiri

Khawatir terhadap anak memang boleh, namun jangan sampai berlebihan dan memperlakukan anak bagaikan kaca. Anak tidak boleh memanjat, tidak boleh lari-lari, sekolah harus selalu diantar, dan makanpun harus disuapi walaupun anak sudah mampu makan sendiri. Anak akan merasa canggung dan memiliki ruang untuk mengekpresikan dirinya. Oleh karena itu biarkan anak belajar mandiri dan mengekpresikan dirinya, serta latih anak dengan berbagai kegiatan yang positif.

4. Keluarga yang tidak otoriter (mau menang sendiri)

Otoriter yaitu suatu sikap yang mau menang sendiri. Orang tua yang suka membentuk, main pukul, menganggap anak selalu salah dan orang tua lah yang selalu benar. Orang tua yang bersikap seperti itu bermaksud untuk mendidik.

Namun apakah orang tua mengetahui betapa menderitanya hati anak jika larangan disertai dengan bentakan ataupun pukulan. Sikap yang seperi itu akan membentuk anak menjadi penakut, gagap, tidak percaya diri dan sebagainya.

5. Jangan terlalu banyak aturan dalam keluarga

Tidak jarang keluarga yang menerapkan banyak peraturan kepada anak, serta sikap dan perilakunya pun ikut diatur. Peraturan yang begitu banyak akan membuat anak takut berbuat sesuatu dan menimbulkan sikap peragu atau sulit untuk memutuskan sesuatu. Lebih bahayanya lagi jika anak kelak sudah dewasa, anak akan sulit menjadi pemimpin karena telah terbiasa dipimpin.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.