Tag - anak menjadi penakut

Mengapa Anak Menjadi Penakut? Bagaimana Cara Mengatasinya

Mengapa Anak Menjadi Penakut? Jika seorang anak mempunyai rasa takut, misalnya saat anak mau ke kamar mandi kemudian ia minta ditemani oleh sang bunda padahal jarak kamar mandi sangat dekat. Bahkan anak yang penakut cenderung takut dengan segala situasi yang baru dan bahkan ia akan menutup diri karenanya. Misalnya saat ia bertemu dengan orang yang belum ia kenal. Kemana-mana pun harus ditemani dan saat anak baru mulai masuk sekolah, anak akan meminta orang tua untuk menunggunya di depan kelas dan hal ini akan berlangsung lama sampai anak terbiasa dengan kondisi kelas dan juga dengan teman-temannya.

Rasa takut sesungguhnya merupakan hal wajar yang dimiliki oleh setiap orang, tidak hanya ada pada anak-anak namun juga pada orang dewasa. Dengan adanya rasa takut pada diri seseorang maka ia akan lebih berhati-hati sehingga terhindar dari berbagai macam bahaya yang bisa saja mengancam dirinya. Namun yang perlu para orang tua khawatirkan adalah ketika rasa takut itu menjadi berlebihan, maka dampaknya akan merugikan seperti seseorang akan menjadi tidak berani melakukan banyak hal karena dengan alasan takut. Padahal kunci dari suatu keberhasilan adalah berani dalam melakukan banyak hal.

Jika anak menjadi terlalu penakut seperti ini, maka kita perlu memberantas rasa takut itu dalam diri anak sedini mungkin bahkan sejak ia masih kanak-kanak. Karena menurut penelitian yang pernah dilakukan di Amerika yaitu berbagai bentuk ketakukan yang ada pada orang dewasa ternyata berkaitan dengan masa kecilnya atau sudah ada sejak masih kecil dan hal itu sulit untuk hilang.

Mengapa Anak Menjadi Penakut? Bagaimana Menyikapinya

Ada beberapa penyebab umum yang membuat seorang anak menjadi penakut dan hal ini yang harus bisa kita atasi sedini mungkin agar tidak mempengaruhi anak-anak, yaitu :

  1. Pendidikan otoriter di dalam keluarga

Beberapa orang mungkin menerapkan pendidikan yang ketat dan sangat keras kepada anak-anaknya. Karena hal itu dianggap mampu membentuk karakter anak yang kuat dan pemberani. Faktanya tidak semua anak menjadi kuat dan pemberani, justru beberapa anak banyak yang merasa ditekan, dihukum dan ditakut-takuti atau diancam dan kemudian mengalami gangguan mental akibat rasa takut yang berlebihan.

Mengapa Anak Menjadi Penakut

Anak menjadi tidak percaya diri, labil dan cenderung untuk melakukan kesalahan, dalam garis besar jika anak-anak yang disebarkan dengan pendidikan seperti ini lebih cenderung menjadi penakut dan rapuh jiwanya. Anak tidak diberi kebebasan untuk berpendapat dan berkreasi, semuanya harus berdasarkan perintah orang tua. Jika salah maka harus dihukum inilah contoh cara mendidik yang menjadikan anak tidak percaya diri dan penakut.

Para orang tua seharusnya proposional dalam mendidik anak-anaknya, tidak perlu terlalu keras terhadap anak dan menerapkan hukuman yang berlebihan disetiap kesalahan anak. Namun yang terpenting dalam mendidik anak adalah tegas dan konsisten. Jika salah anak boleh dihukum namun hukumannya harus sesuai dengan kesalahan yang dilakukan sang anak. Contoh yang baik yaitu memberikan hukuman yang bersifat mendidik bukan malah memberikan hukuman yang membuatnya merasa terhina dan menjatuhkan harga dirinya.

  1. Trauma masa lalu

Anak bisa saja mengalami trauma, hal ini yang bisa menyebabkan anak menjadi penakut. Seperti contoh anak takut untuk pergi ke kamar mandi karena ia takut ada kecoak dan ia pernah punya pengalaman buruk dengan kecoak. Jika bunda menemukan anak mempunyai rasa takut seperti ini sebaiknya tidak usah terburu-buru untuk membuatnya berani masuk ke kamar mandi. Karena justru akan membuat trauma anak semakin parah jika bertemu dengan kecoak tersebut. Perilaku ini yang sering disebut denga phobia atau rasa takut yang berlebihan terhadap sesuatu. Jika anak mengalami phobia sebaiknya jangan terlalu memaksakan dirinya untuk berani, karena jika dipaksakan anak yang mengalami phobia jika bertemu dengan sesuatu yang ditakutinya maka akan mengalami gejala sulit bernafas, jantung berdebar, pusing, gemetar atau merasa perlu untuk ke toilet.

Biarkan rasa takut itu menghilang secara perlahan dengan memberikannya penjelasan dan cerita yang membuatnya tidak takut lagi dengan sesuatu yang ia takuti tersebut seperti takut dengan kecoak.

  1. Pengaruh yang salah

Pengaruh yang salah dapat berasal dari orang tua, teman, tontonan maupun bacaan yang dibaca. Pemahaman dari luar yang ditanamkan kepada anak yang membuatnya mempunyai persepsi yang salah tentang sesuatu.

Contoh pengaruh dari orang tua : Misalnya orang tua mendongengi anak tentang tempat gelap itu merupakan tempatnya setan. Akibatnya anak menjadi takut jika bertemu dengan tempat yang gelap, dibawah sadar anak akan otomatis muncul bayangan setan jika ia menjumpai tempat gelap.

Contoh pengaruh dari tontonan : Jika anak suka memonton televisi dan salah satu tayangan menayangkan cerita hantu yang mengisahkan tentang arwah orang yang telah meninggal akan gentayangan. Akan mengakibatkan pemahaman anak terhadap orang yang meninggal, arwahnya akan gentayangan. Hal ini yang menyebabkan anak takut untuk keluar rumah ketika ada orang yang meninggal.

Solusi yang dapat dilakukan adalah sebagai orang tua kita harus pandai-pandai dalam memilihkan cerita yang positif pada anak-anak. Jangan memberikan cerita atau mendongeng tentang hal-hal yang takhayul pada anak-anak, karena dapat meracuni pikiran dan mental anak-anak yang masih polos. Selain itu orang tua juga harus hati-hati dalam memilih tayangan atau bacaan yang sesuai dengan tingkat berpikir anak. Karena anak yang masih polos dan lugu nampu menerima apa saja yang mereka lihat dan baca.

Baca juga : Apakah Setiap Kemauan Anak Boleh Dituruti?

Read more...